Selasa, 14 Mei 2013

The Paladin




Pada hari-hari tergelap Perang Dunia II, Churchill membutuhkan seorang anak berjiwa ksatria seperti itu. Tugasnya adalah menerobos tanpa dicurigai ke dalam wilayah-wilayah musuh yang terdalam. Membunuh pria atau wanita satu demi satu atau ribuan sekaligus. Melaksanakan misi-misi yang harus terbungkus dalam hening ketika sejarah-sejarah perang digoreskan bagi generasi yang belum terlahir....
Seorang anak yang takkan menunjukan emosi maupun mempertanyakan perintah apapun. Seorang anak yang hanya takut ketakutannya tersingkap.... Dia tumbuh dewasa menjadi seorang Agen Rahasia yang Profesional dan menjadi ujung tombak Negara Inggris Raya....
Bagaimana dia menjalankan tugas penyusupan dengan masuk ke dalam Kapal Selam milik Negara Belanda sendirian dan melakukan tindakan Sabotase terhadap rudal-rudal yang ada di dalam kapal selam tersebut, dan berhasil lolos keluar kapal selam tanpa luka sedikitpun serta menyaksikan ledakan kapal selam tersebut dari jauh....
Dengan membaca buku ini seolah-olah kita dibawa dalam situasi peperangan yang sesungguhnya dan situasi yang tertuang sama halnya seperti kita melihat Film Mission Impossible....
Buku yang sangat bagus untuk di baca karena kita bisa lebih banyak mengetahui sejarah Perang Dunia II dan jatuhnya kekuasaan Hitler pada masanya....

Selasa, 02 April 2013

Surat Dahlan



Bagi setiap perantau sepertiku, rindu adalah hantu yang paling menakutkan.

Tak ada yang tahu bagaimana ia mendatangiku setiap waktu.

… begitu menyiksa, menggeretakkan tulang-tulang ketabahan.
 
Karang Asam, Samarinda, Bumi Etam.
D
ua tahun telah berlalu, sejak Dahlan meninggalkan Kebon Dalem. Sayangnya, merantau dan menjadi mahasiswa tidak semudah yang dibayangkan. Perkuliahan berlangsung melenceng jauh dari rencana awal, sementara kerinduan terhadap kampung halaman dan orang-orang terkasih selalu menyesakkan dadanya. Belum lagi Dahlan harus dihadapkan pada pilihan yang sulit antara janji temu dengan cinta pertama, lamaran sahabat baiknya, dan cinta baru yang dia temukan di tempat rantauan.

            Dahlan muda yang penuh semangat juang berusaha untuk tidak mengalah pada rindu. Kepeduliannya terhadap negeri yang kacau balau kala itu, membuatnya memutuskan untuk mengabdi pada masa depan bangsa melalui gerakan-gerakan kemahasiswaan. Dianggap memberontak, Dahlan dan rekan-rekan mahasiwanya menjadi buronan  pemerintah. Dia harus berlari dan bersembunyi dari kejaran tentara. Di tengah pelariannya, takdir mempertemukannya dengan Sayid, seorang guru sekaligus sahabat, yang mengenalkan Dahlan pada media dan memberikannya kesempatan untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya.

Trilogi Novel Dahlan Iskan
            Bagaimana Dahlan memulai semuanya itu dari bawah, penuh dengan perjuangan keras dan prinsip hidupnya yang selalu diutamakan adalah KERJA.... KERJA.... KERJA...!!!!, sehingga karirnya melejit secara pasti. Dan bagaimana kisah cintanya selama merantau di Bumi Etam...??? Hingga munculah gelar “LAKI-LAKI YANG TIDAK ROMANTIS....”. Semua itu diceritakan dalam Buku Trilogi ini. Dan kita tunggu episode terakhir dari Trilogi ini yaitu ...SENYUM DAHLAN...

Senin, 11 Maret 2013

Warisan GO! Samola


60 Tahun Jawa Pos

Buku ini ditulis dalam rangka ulang tahunnya Jawa Pos yang ke-60, jaringan surat kabar terbesar di Indonesia. Penulisnya sendiri, Dahlan Iskan, adalah CEO di Group Jawa Pos. Karena diterbitkan dengan latar belakang ulang tahun Jawa Pos, buku ini berkisah bagaimana Jawa Pos sebuah Koran yang hampir bangkrut bisa bangkit dan sekarang menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Diceritakan dalam beberapa bab ini bahwa sosok yang sangat berpengaruh di Jawa Pos adalah sosok bernama ERIC SAMOLA. Putra Manado yang menjadi salah satu tokoh penting dalam dunia bisnis di Indonesia.
            Latar belakang penulis yang seorang wartawan membuat buku yang sarat sejarah ini menjadi sebuah buku yang mempunyai kesan nyata yang sungguh luar biasa. Dengan bahasa wartawan yang kronologikal dan dibumbui dengan selera humor cerdas khas Dahlan Iskan, menjamin para pembaca tidak akan bertemu dengan rasa bosan ketika mengarungi tiap bab di buku ini.
            Dalam buku ini menceritakan semangat dan perjuangan seorang ERIC SAMOLA. Mungkin dari sebagian anak muda sekarang banyak yang tidak mengenal siapa sebenarnya ERIC SAMOLA, serta apa kaitannya dengan Jawa Pos. Di buku ini akan diceritakan siapa sesungguhnya sosok dari ERIC SAMOLA dan kiprahnya di Jawa Pos maupun di bidang yang lain. Bagaimana proses menuju sukses seorang ERIC SAMOLA, diceritakan semua oleh Dahlan Iskan. GO! dan atau NO GO! itu adalah sebuah sikap.....

Jumat, 01 Maret 2013

KARNI ILYAS 40 Tahun Jadi Wartawan


LAHIR UNTUK BERITA

Satu hari di masa liburan sekolah, Karni Ilyas kedatangan seorang sepupu dari Jakarta. Kemudian mereka berke­li­ling pasar dan menyusuri tepi laut Padang dengan naik bendi. Karni bercerita tentang keinginannya menjadi wartawan. Kenapa wartawan? tanya sepupunya. Ia menjawab spontan: Karena Saya Ingin Terkenal!
Karni merantau ke Jakarta setelah tamat dari SMEA jurusan Tata Niaga di Padang. Sebagaimana biasanya orang Minang, modal yang dibawa Karni merantau selain Ijazah SMEA tentu, adalah semangat untuk maju. Semula bercita-cita jadi Ekonom, tapi setibanya di Jakarta keinginan itu segera dipetieskannya. Ia melihat batu loncatan lain untuk menjadi terkenal: “WARTAWAN”.                        
Cita-cita “anak jalanan” yang pernah menjajakan koran di Pasar Goan Hoat di Padang, Sumatera Barat, tahun 1960-an ini akhirnya terkabul. Lewat acara Indonesia Lawyers Club yang dipandunya, Karni, dengan suara serak yang khas dan pertanyaan-pertanyaan tajam yang dikendalikan oleh logika dan pengetahuan hukumnya yang luas semakin populer. Semua itu tentu tidak diraihnya dengan tiba-tiba. “Apa pun pernah saya lakukan, apa pun pernah saya jual untuk menyambung hidup dan pendidikan. Bermimpi itu halal. Tapi ada syaratnya, yaitu “Kerja Keras, Kerja Keras, dan Kerja keras,” katanya. Dalam soal-soal Hukum (Kecuali Masalah Hukum RIMBA & Hukum KARMA), Karni adalah “AHLI”nya.
Karni Ilyas, Lahir untuk Berita adalah buku yang memotret 40 tahun perjalanan karier Sukarni Ilyas sebagai wartawan, mulai dari reporter di harian Suara Karya (1972-1978), di majalah Tempo hingga menjabat Redaktur Pelaksana Kompartemen Hukum dan Kriminal (1978-1994), Pemimpin Redaksi majalah FORUM Keadilan (1992-1999), Direktur Pemberitaan dan Hubungan Korporat SCTV (1999-2005), Direktur Pemberitaan, Olahraga, dan Komunikasi Kor­porat antv (2005-2008), hingga menjadi Direktur/Pemimpin Redaksi tvOne sejak 2008.

Sabtu, 02 Februari 2013

Nasihat untuk SBY



D
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hukum

engan menuliskan buku ini Adnan Buyung Nasution (ABN) sebenarnya telah melanggar aturan. Salah satu pasal Undang-Undang tentang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menyebutkan : Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, anggota Wantimpres tidak dibenarkan memberikan keterangan, pernyataan, dan/atau menyebarluaskan ini nasihat dan pertimbangan kepada pihak manapun.

       Buyung justru membeberkan pengalaman dan suka-duka selama menjadi anggota Wantimpres angkatan pertama (2007 – 2009). Blak-blakan Ia ungkap kenyataan pahit bahwa banyak nasihat dan pertimbangannya yang tidak di dengar. Juga soal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang jarang meminta nasihat dan pertimbangan.

            Buyung juga bicara soal tidak adanya komunikasi yang rutin dengan Presiden. Selama satu setengah tahun menjadi anggota Wantimpres, hanya tiga kali Ia bisa berkomunikasi langsung dengan President. Selebihnya “BERGERILYA”.

         Apakah sudah saatnya Buyung bicara? Apakah telah ditimbang kenyataan bahwa semua isu dan peristiwa yang dibicarakan masih segar dalam ingatan? Apa sudah dihitung fakta bahwa Pak SBY masih menjabat Presiden?

          Bagi Buyung, buku ini justru tepat terbit sekarang. Mumpung Presidennya masih sama, agar bisa menjadikan bahan memperbaiki keadaan sekarang. Ia tidak ingin Wantimpres bernasib sama dengan DPA yang nasihat dan pertimbangannya tak pernah di dengar Presiden, sehingga keberadaannya tak bermanfaat bagi rakyat. Cuma membuang waktu dan uang.

              Buyung menumbangkan “Sifat Kerahasiaan” yang membatasi seorang abdi negara menyampaikan pertanggungjawaban moral, hukum, dan politik kepada rakyat. Ia merasa dibayar dengan uang rakyat. Ia beranggapan rakyat berhak tahu apa tugas dan kewajibannya sebagai anggota Wantimpres, baik yang berhasil maupun yang gagal dilaksanakan.