Sabtu, 02 Februari 2013

Nasihat untuk SBY



D
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hukum

engan menuliskan buku ini Adnan Buyung Nasution (ABN) sebenarnya telah melanggar aturan. Salah satu pasal Undang-Undang tentang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menyebutkan : “Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, anggota Wantimpres tidak dibenarkan memberikan keterangan, pernyataan, dan/atau menyebarluaskan ini nasihat dan pertimbangan kepada pihak manapun”.

       Buyung justru membeberkan pengalaman dan suka-duka selama menjadi anggota Wantimpres angkatan pertama (2007 – 2009). Blak-blakan Ia ungkap kenyataan pahit bahwa banyak nasihat dan pertimbangannya yang tidak di dengar. Juga soal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang jarang meminta nasihat dan pertimbangan.

            Buyung juga bicara soal tidak adanya komunikasi yang rutin dengan Presiden. Selama satu setengah tahun menjadi anggota Wantimpres, hanya tiga kali Ia bisa berkomunikasi langsung dengan President. Selebihnya “BERGERILYA”.

         Apakah sudah saatnya Buyung bicara? Apakah telah ditimbang kenyataan bahwa semua isu dan peristiwa yang dibicarakan masih segar dalam ingatan? Apa sudah dihitung fakta bahwa Pak SBY masih menjabat Presiden?

          Bagi Buyung, buku ini justru tepat terbit sekarang. Mumpung Presidennya masih sama, agar bisa menjadikan bahan memperbaiki keadaan sekarang. Ia tidak ingin Wantimpres bernasib sama dengan DPA yang nasihat dan pertimbangannya tak pernah di dengar Presiden, sehingga keberadaannya tak bermanfaat bagi rakyat. Cuma membuang waktu dan uang.

              Buyung menumbangkan “Sifat Kerahasiaan” yang membatasi seorang abdi negara menyampaikan pertanggungjawaban moral, hukum, dan politik kepada rakyat. Ia merasa dibayar dengan uang rakyat. Ia beranggapan rakyat berhak tahu apa tugas dan kewajibannya sebagai anggota Wantimpres, baik yang berhasil maupun yang gagal dilaksanakan.

Sabtu, 19 Januari 2013

Manufacturing Hope BISA!!!


Manufacturing Hope BISA!!!

D
ahlan Iskan, tiba-tiba namanya meroket saat Indonesia terbelit birokrasi dan terjadi kekosongan sang penggerak. Dahlan-lah yang mau terjun langsung. Dahlan bukan sekedar berwacana dan bermimpi.
   Jiwa dan mata hati kewartawanannya masih melekat di dirinya. Insting bisnisnya pun kuat dan pengambilan keputusannya cepat dan tepat serupa ketika ia menakhodai perusahaan media. Kini ia duduk dalam pemerintahan. Pembenahan di perusahaan milik negara butuh waktu. Ia menggunakan langkah strategis dengan pena dan otaknya. Ia menulis agar pikirannya bisa dijalankan oleh pimpinan BUMN dan segenap masyarakat menyimaknya. Ia memperkaya jaring-jaring harapan. 
    Buku Dahlan keempat ini mengulas tentang harapannya terhadap BUMN demi kesejahteraan bangsa. Isinya kocak dan menggelikan. Meskipun begitu, banyak pelajaran yang didapat di sana. Semoga bukunya dapat mencerahkan kita semua. Dahlan juga pernah berucap “Jangan Hanya Mau Jabatannya Saja Tapi Tidak Mau Resikonya”.
   Bagi yang tidak atau jarang membaca catatan Manufacturing Hope di harian Jawa Pos, anda dapat membacanya di buku ini.... Kita tunggu buku berikutnya Pak Dahlan....!!!!

Jumat, 14 Desember 2012

Petunjuk Menikmati Hidup dan Pekerjaan


Petunjuk Menikmati Hidup & Pekerjaan

“ANDA MUNGKIN MENGGUNAKAN SEBAGIAN BESAR WAKTU UNTUK BEKERJA, APAKAH ANDA MENIKMATI PEKERJAAN SEPERTI YANG ANDA HARAPKAN?” .......
                Sikap terhadap kerja dapat menentukan apakah hidup seseorang akan penuh kegembiraan dan kepuasan, atau malah lesu, frustrasi, dan membosankan. Penulis beken DALE CARNEGIE menunjukan bagaimana memetik kepuasan kerja sebesar-besarnya dengan sepanjang waktu menggali dan menggunakan bakat dan kemampuan yang selama ini tidak Anda sadari.
Saran-saran DALE CARNEGIE akan membantu anda untuk :
·         Memperoleh kedamaian dan kebahagiaan.
·         Menghadapi orang lain dengan nyaman.
·         Mempersuasi orang.
·         Mengubah orang tanpa menimbulkan perlawanan atau sakit hati.

                Buku “PETUNJUK MENIKMATI HIDUP DAN PEKERJAAN” akan membantu Anda mencapai tujuan, kalau yang Anda inginkan adalah hidup yang lebih berhasil, bermakna, dan seimbang. Mulailah mengisi hari-hari hidup Anda dengan kebahagiaan dan kepuasan. Mulailah memperkaya hidup Anda sejak hari ini......
Selamat Membaca....!!!!

Senin, 12 November 2012

Gus Dur! Siapa Sih Sampeyan?


Tafsir, Teori & Pernyataan Gus Dur

Buku ini bercerita tentang sisi Gus Dur sebagai sosok Kharismatik dalam hal ajaran Agama Islam, tetapi pola pikirNya sangat Humanis, Demokratis, Pluralis & Sosialis. Bagaimana ketika Gus Dur merantau ke luar negri untuk mendapatkan pendidikan yang lebih dari sekedar Pondok Pesantren yang notabene adalah tempat pendidikan turun-temurun dari kakekNya yang seorang toko pendiri NU di Indonesia.
            Beberapa kasus yang ditulis dalam buku ini mengingatkan kita pada kejadian Reformasi tahun 1998, dimana Gus Dur selaku tokoh Ulama yang disegani di Indonesia menenangkan para mahasiswa untuk mundur dan menenangkan diri dari demo yang terjadi saat itu. Pada saat Gus Dur menyampaikan hal tersebut, betapa beliau di kecam oleh seluruh lapisan masyarakan bahwa Gus Dur tidak Pro terhadap rakyat Indonesia.
            Ide-ide atau pendapat Gus Dur terkait dengan Politik serta Keagamaan di Indonesia terkadang sangat Kritis, tetapi semua itu tergantu pada pola penafsiran dari diri kita masing-masing. Dalam buku ini membahas mengenai sisi lain dari penafsiran yang sesungguhnya dan jauh dari nalar kita serta dapat membuat kita mengerti dengan jelas “apa yang sesunggunya ada di dalam pemikiran Gus Dur sebagai tokoh yang berpengaruh di Indonesia”.
            Ada pula ketika Gus Dur menyampaikan pernyataan yang membuat resah di kalangan Anggota DPR ketika beliau menyatakan telah mengetahui siapa dalang dari kasus pembantaian Dukun Santet di Banyuwangi dan Situbondo pada bulan Oktober 1998. Begitu hebohnya pernyataan tersebut sehingga membuat masyarakat pada umumnya yang tidak mengerti akhirnya dapat melihat kejadian tersebut yang telah dirahasiakan oleh oknum-oknum dari instansi terkait. Pada saat seperti inilah kita bisa menilai akan pola pikir Gus Dur yang begitu Kritis dan terkadang kita tidak dapat menjangkaunya.
            Dalam buku ini anda dapat mengerti secara jelas dan gamblang bagaimana Gus Dur berfikir, berbicara, dan bertindak. Selamat Jalan Gus Dur...... Anda telah mengukir Sejarah Baru di negri tercinta kita ini..... INDONESIA....!!!

Selasa, 23 Oktober 2012

From Beirut to Jerusalem


DR. ANG SWEE CHAI

Pengalamanku di Sabra-Shatila menyadarkanku bahwa orang Palestina adalah manusia. Kebodohan dan prasangka telah membutakan mataku dari penderitaan bangsa Palestina. Buku ini adalah kesaksian dari Dr. Ang Swee.

Mulanya, karena latar belakang religinya, dr. Ang Swee Chai adalah pendukung Israel. Di matanya, orang Palestina adalah teroris. Namun, pada 1982, Israel menyerang Beirut dengan brutal.

Ia putuskan untuk membuktikan sendiri dengan menjadi sukarelawan medis di Beirut. Di sana, di kamp pengungsian Palestina, setelah menjadi saksi Pembantaian Sabra-Shatila, akhirnya ia temukan jawaban. Ia berbalik memihak rakyat Palestina, memihak keadilan dan kemanusiaan. Di tanah asing, ia pertaruhkan nyawanya untuk membela orang-orang yang tak punya hubungan darah maupun etnis dengan dirinya, untuk melaksanakan kewajibannya sebagai dokter, sebagai manusia.

Dr. Ang Swee Chai lahir di Malaysia dan dibesarkan di Singapura. Sejak 1977, bersama suaminya tinggal di Inggris. Kini, ia bekerja di St. Bartholomew’s Hospital dan the Royal London Hospital sebagai orthopaedic consultant.

Setelah terjadinya Pembantaian Sabra-Shatila, bersama beberapa rekannya, dr. Ang membentuk Medical Aid for Palestinians (MAP). Pada 1987, Pemimpin PLO, Yasser Arafat, menganugerahi dr. Ang Star of Palestine, penghargaan tertinggi bagi pengabdian kepada rakyat Palestina. Hingga kini, melalui MAP dr. Ang terus aktif membantu bangsa Palestina.

Note: Kesimpulan pembaca adalah, “JIKA MENJADI SEORANG DOKTER TIDAKLAH DIBENARKAN UNTUK MEMIHAK DALAM PROSES PENGOBATAN MAUPUN PERAWATAN TERHADAP PASIEN, KARENA ETIKA KEDOKTERAN ADALAH MENYEMBUHKAN UMAT MANUSIA TANPA MEMANDANG SUKU, AGAMA & RAS.”